Sejarah music SKA

20 02 2012
SKA
Perang Dunia II yang mengubah segalanya kekuasaan Inggeris
terhadap negara _negara jajahanya.Runtuh sebelum masa PD II &
terpecah belah, pada saat pertengahan masa peperangan Inggeris
memberikan kemerdaakaan kepada negara_negara jajahannya setelah mendapat
tekanan dari pemerintahan kolonial. Pada tahun 1962 Jamaica membentuk
pemerintahan sendiri meskinpun masih tetap sebagai negara yg makmur,
Budaya Jamaica & muziknya mula terfleksi dalam optimisme baru
& aspirasi rakyat yang liberal.
Sejak tahun 40’an Jamaika telah mengadopsi & mengadaptasi berbagai bentuk muzik dari Amerika.
Pada saat PD II berakhir, begitu banyak band-band di Jamaika yang
memainkan muzik² dansa. Grup seperti Eric Dean Orchestra dengan
trombonisnya Don Drummond & master gitarisnya Ernest Ranglin
terpengaruh oleh pemuzik² jazz Amerika seperti Count Bassie, Erskine
Hawkins, Duke Ellington, Glenn Miller & Woody Herman. Ditahun 50’an
ketenaran band-band jazz di Amerika digantikan oleh grup-grup yang kecil
& cenderung lebih memainkan irama bop/rhythm & blues sound.
Musisi Jamaika yang sering berkunjung ke Amerika terpengaruh &
membawa pola permainan muzik tersebut ke daerah asalnya. Band-band local
di Jamaika seperti Count Smith The Blues Blaster, Sir Nick The Champ
& Tom The Great Sebastian mulai memainkan gaya baru tersebut.
Ditahun 1954, pertunjukan terbesar pertama kali diadakan di kota
Kingston tempatnya di Ward Theatre. Band-band tradisional yang memainkan
irama mento-folk-calypso turut mengambil bahagian & sering kali
band-band tersebut mengisi acara di hotel-hotel yang ada di Jamaika
& mengelilingi pulau tersebut. Pada akhir tahun 50’an
pengaruh-pengaruh jazz, R&B, & mento (sejenis muzik calypso)
melebur menjadi satu bentuk baru yang dinamakan ‘shuffled’. Irama
shuffled memperoleh populari berkat kerja keras musisi-musisi seperti
Neville Esson, Owen Grey, The Overtakers & The Matador Allstars.
Banyak studio & perusahaan rakaman yang mengalami perkembangan &
terus berusaha untuk mencari bakat² baru. The Jamaican Broadcasting
Corporation pun ikut membangkitkan semangat kepada pemuzik² muda melalui
siaran acara² di radio.
Dua orang yang amat berpengaruh dalam perkembangan musik di Jamaika pada tahun 50’an adalah Duke Reid &
Clement Seymour Dodd. Bersama istrinya, Duke Reid memiliki kedai
‘Treasure Island Liquor’ yang berlokasi di jalan Bond (Bond street).
Soundsystem Reid dikenal dengan nama ‘The Trojan’, diambil dari tulisan
yang tertera pada traknya. Trak yang biasa digunakan sebagai angkutan
barang untuk kedainya. Dodd menamakan soundsystem miliknya ‘Sir Coxsone
Downbeat’ yang diambil dari nama pemain kriket asal Yorkshire, Coxsone.
Sepanjang akhir tahun, kedua orang tersebut memimpin persaingan dalam
bisnes muzik. Walaupun Coxsone lebih dekat dengan ‘Ghetto'(perkampungan
yang didiami kaum atau kelompok tertentu) Adalah Reid yang dianugerahi
sebagai ‘King of sound & blues’ di Success Club (acara
penganugerahan) di tahun 1956, 1957, 1958.
Tahun 1962, saat di mana Jamaika sedang cenderung meniru musik-muzik Amerika, Cecil
Bustamente Campbell yang kemudian dikenali dengan nama ‘Prince Buster’,
tahu bahawa sesuatu yang baru amat ditubuhkan pada saat itu. Ia memiliki
seorang gitaris yang bernama Jah Jerry yang kemudian bereksperimen di
muzik dengan menitikberatkan ‘ketukan ‘afterbeat’ ketimbang ‘downbeat’.
Hingga pada saat ini ketukan afterbeat menjadi esensi dari singkop
(penukaran irama) khas Jamaika. Ska pun lahir. Soundsystem/studio
rekaman pun mulai merakam hasi kerja mereka. Dengan tidak memberikan
label pada vinyl (piring hitam) dengan tujuan agar memperoleh keuntungan
diantara para pesaingnya. Sehingga yang lain tidak dapat melihat apa
yang dimainkan & ‘mencuri’ untuk sondsystem mereka sendiri.
Perang antara soundsystem pun memuncak hingga pada saat para donatur terancam
oleh segerombolan orang² yang menyebabkan permasalahan. Orang² ini
dinamakan ‘Dance Hall Crashers’. Meskipun fasilitas Mono Recording yang
masih primitif, adalah keteguhan hati dari antusiasnya akan muzik ska
yang memungkinkan untuk menjadi muzik komersil dari Jamaika yang pertama
kali. Dan kenyataannya ska dikenal sebagai musik dansa rakyat Jamaika.
Sepanjang tahun 60’an wilayah ghetto di Jamaika dipenuhi oleh pemuda-pemuda yang
mencari pekerjaan. Pada waktu itu amat susah di dapati. Pada awalnya
pemuda-pemuda ini tidak tertarik dengan optimisme musik ska.
Pemuda-pemuda tersebut menciptakan identiti kelompok sebagai ‘Rude Boy’
(sebuah trend dikalangan pemuda yang pernah terjadi pada periode awal
tahun 40’an) Menjadi ‘Rude’ ertinya menjadi seseorang dimana masyarakat
menganggapnya tidak berguna. Gaya dansa ska para Rude Boy memiliki ciri
khas tersendiri, lebih pelan, dengan tingkah seakan-akan meninju
seseorang. Rude Boy memiliki koneksitas dengan ‘Scofflaws'(orang-orang
yang selalu menentang hukum) & dunia kriminal lainnya. Hal ini
terefleksikan dalam lirik-lirik lagu ska. (catatan: gaya penampilan
berpakaian Rude Boy iatu dengan celana panjang yang mengatung hanya
semata kaki). Muzik ska sekali lagi mengalami perubahan untuk
merefleksikan ‘Mood of the rude’ dengan menambahkan tensi pada permainan
bass yang disesuaikan dengan gaya sebelumnya iatu ‘free-walking bass
style’.
Banyak yang datang mengadu nasib di kota Kingston untuk memperoleh pengetahuan dalam industri muzik yang kemudian beralih
menjadi penjual ganja ketika gagal & modal makin menipis. Banyak
pula yang berkecimpung dalam dunia kriminal (tergambar dalam film ‘The
Harder They Come’ yang diperankan oleh Jimmy Cliff …film ini dipercaya
mengisahkan tentang perjalanan hidup Jimmy Cliff)
Dua parti politik yang ada di Jamaika membentuk banser bersenjata. Opini publik
pun
mengarah pada penentangan terhadap kelompok Rude Boy & penggunaan senjata api. Peraturan memiliki senjata api pun ditilik
kembali setelah melalui periode dimana kepemilikan senjata diperbolehkan
asal tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Siapa pun yang memiliki
senjata api yang ilegal, diancam hukuman penjara seumur hidup
Artis & produser mendukung bahkan ‘memaafkan’ atas prilaku kelompok Rude
Boy melalui
muzik ska. Dukungan untuk tidak menggunakan senjata api terefleksi dalam lagu-lagu seperti “Lawless street” dari kelompok Soul
Brothers, “Gunmen coming to town” The Heptones. Duke Reid memproduseri
salah satu grup ska The Rude Boy (shuffling down Bond street) C.S. Dodd
pun ikut memproduksi grup muda yang memiliki visi muzik mereka sebagai
‘rudies’ iatu kelompok The Wailers ( Bob Marley, Peter Tosh, Bunny
Wailer).
Prince Buster menemukan seseorang yang memiliki mitos karakter sebagai Rude Boy iatu
Judge Dread. Lagu “007 Shanty Town” yang dinyanyikan oleh Desmond Dekker adalah sebuah karya cemerlang dalam
mendokumentasikan perilaku Rude Boy kedalam sebuah lagu (berhasil
memasuki urutan tangga lagu ke 14 di UK Charts)
Tema rude boy masih mendominasi sepanjang periode ska, dan popularitinya memuncak
sepanjang musim panas tahun 1964. Beat ska menjadi lebih lambat &
Rocksteady pun lahir. Gelombang ska pertama berakhir pada tahun 1968
(Rocksteady adalah bahagian cerita lain: Rocksteady kemudian melahirkan
muzik Reggae. Populariti muzik Reggae di Inggris di sebarkan oleh
Skinhead; kelompok Rastafarian mengadopsi muzik Reggae & lirik²
lagunya cenderung bertemakan ajaran Rastafari & pandangan
Relijiusnya, Reggae pun berkembang menjadi ‘Dub’, ‘Dancehall’, &
seterusnya …& seterusnya …)
Memasuki gelombang kedua …sebelumnya marilah kita lihat beberapa sejarah ska lainnya:
ditahun 1962, saat di mana Inggris menjanjikan jaminan secara tak terbatas
kepada para
imigran yang berasal dari negara² persemakmurannya, rusuhan pun terjadi. Disaat itu muzik ska & Reggae sedang populer.
Dibawa dari Jamaika oleh banyak pemuzik & produser yg ikut
berimigrasi, termasuk ‘The Trojan’ & seorang kelahiran Kuba, Laurel
Aitken. Pada tahun 70’an, imej Rude Boy diperbaharui & terhasil
dalam penggabungan 2 jenis musik yg masih tergolong baru di Inggris iatu
Reggae & Punk oleh band The Clash (Rudie can’t fail). Antara
pertengahan hingga akhir tahun 70’an, band seperti The Coventry
Automatics memilih untuk memainkan ska ketimbang Reggae karena menurut
Jerry Dammers (pendiri band tersebut), memainkan musik ska lebih mudah
& gampang. The Coventry Automatics merubah namanya menjadi The
Specials AKA The Automatics, kemudian berubah lagi menjadi The Specials.
Selanjutnya pada tahun 1979 Jerry Dammers mendirikan 2Tone Records. Keinginan
Dammers layaknya seperti Prince Buster di awal tahun 60’an yaitu
menciptakan sesuatu yang baru. Hitam & putih menjadi simbol.
Lahirlah yang dinamakan dengan 2Tone ska. Logo 2Tone iatu gambar kartun
pria berpakaian jas hitam dengan kemeja putih, dasi hitam, topi ‘pork
pie’, kaca mata hitam, kaus kaki putih & sepatu ‘lofers’ hitam
menjadi logo resmi yang karakternya di beri nama ‘Walt Jabsco’ (diambil
dari nama Walt Disney, pendiri film kartun & Jabsco bererti ganja
dalam bahasa slang latin). Diciptakan oleh Dammers sendiri
berdasarkan pose Peter Tosh pada sebuah photo awal kelompok The Wailers yang dapat
di lihat pada cover album ‘The Wailing Wailer Studio One Realease’.
Pada saat rusuhan sedang terjadi, & organisasi racist ‘National Front’
sedang tumbuh
pesat, pakaian hitam putih & band yang anggota nya terdiri dari perusuh, mengetengahkan
lagu-lagu yang bertemakan ‘unity’ disaat negara tersebut sedang terpecah belah oleh isu
racial. Sama halnya dengan musik ska di Jamaika, situasi yang terjadi pada saat
itu
terefleksi kedalam lirik lagu, seperti “Racist Friend” The Specials AKA. Band-band seperti
Madness, The Beat, The Selecter, The Bodysnatchers & The Specials membuat ska menjadi sesuatu yang segar
dengan mengolah nomor-nomor ska klasik dari Prince Buster (Roughrider,
Madness, Too hot, dll.) & artis-artis gelombang pertamanya.Band lain
yang tidak termasuk 2Tone tetapi berasosiasi dengan gerakan 2Tone
adalah Bad Manners. Ada juga persilangan dengan artis gelombang pertama
dengan band 2Tone (Rico Rodriguez adalah pemain trombone yang menjadi
additional player pada kelompok The Specials, anak murid dari pemain
trombone ternama Don Drummond & sering dipakai sebagai musisi studio
do Jamaika)
Pada akhirnya Chrysalis Records membeli 2Tone dari Dammers dengan keputusan menandatangani perjanjian kontrak dengan
band-band 2Tone lainnya. Termasuk antara lain: The Specials, The
Selecter, Madness, Rico Rodriguez, The Swinging Cats, The Friday Club,
The Bodysnatchers, The Hisons, JB Allstars, Specials AKA, The
Apollonairs, The Beat (di Amerika di kenali dengan nama ‘The English
Beat’ karena sudah ada band yang memakai nama The Beat) & sebuah
single dari Elvis Costello. (catatan: single Elvis Costello tersebut
berjudul “I can’t stand up for falling down” menjadi permasalahan &
tidak pernah di jual. Copy lagu tersebut diberikan secara gratis kepada
penggemar Costello pada saat pertunjukannya. Costello memproduseri debut
album The Specials & menjadi guest singer sekaligus produser untuk
single The specials AKA yang berjudul Nelson Mandela 12″.
Tahun 1985 2Tone label dibubar. Dammers mengalami kebangkrutan terhadap
perusahaan Chrysalis. Band-band 2Tone mengalami masa popularitasnya dari
tahun1978-1985 walau bagaimanapun bukan hanya 2Tone yang memainkan
musik ska. Diantara band-band lainnya adalah The Tigers, Ska City
Rockers, The Akrylykz (dengan Roland Gift pada tenor sax, yang kemudian
bergabung bersama anggota The English Beat Cox, & Steele yang
belakangan menjadi penyanyi di Fine Young Cannibals), The Employees, The
Piranhas, dan masih banyak lagi …
Hal tersebut menutup gelombang kedua musik ska …pada gelombang ketiga: dengan berakhirnya
2Tone & gelombang kedua, musik ska menjadi sempit namun tidak
menjadi musik yang usang. Adalah The Toasters (pernah merilis single
dibawah nama ‘Not Bob Marley’), Bim Skala Bim, The Untouchables &
Fishbone yang menjadikan tradisi dalam mencampur beat ska dengan unsur²
muzik lainnya seperti pop, rock dan beat-beat lainnya.
Kehadiran gelombang ketiga musik ska terdiri dari berbagai bentuk dengan
mengkombinasikan hampir setiap jenis muzik yang kira-kira dapat
dicantumkan dengan irama ska. Band-band seperti Jump With Joey, Hepcat,
Yebo, NY Ska Jazz Ensemble & Stubborn Allstars tetap bermain pada
akar ska Jamaika. Operation Ivy, Voodoo Glow Skulls, Mighty Mighty
Bosstones, dll. menggunakan energi punk untuk menciptakan ska-core.
Regatta 69, Fillibuster, Urban Blight, dll. tetap bertahan pada corak
Reggae/Rocksteady beat. Punch The Clown, Undercover S.K.A., dll.
mencirikan pengaruh dari gaya 2Tone. Yang menarik adalah band asal
Florida, Pork Pie Tribes menggabungkan beat ska dengan muzik tradisional
Irlandia. Hal lain yang lebih menarik adalah grup band The Brownies
yang mencampurkan ska dengan apa saja !!
Imej Rude Boy/Rude Girl hadir kembali pada gelombang ketiga, namun kali ini tidak sebagai
pemberontak. Tetapi sebagai suporter yang fanatik dengan muzik SKA, Skinhead Against
Racial Prejudiced (SHARP’s) juga konsep-konsep ‘sell outs’. Ada
beberapa aspek diantaranya yang belum berubah: ska masih menjadi muzik
dikalangan remaja, setiap pertunjukan ska dapat disaksikan oleh segala
umur & tidak terlalu mahal untuk mengakomodasikannya. Disamping itu
juga ska masih membentuk beat yang unik & harmonis walaupun
digabungkan dengan unsur-unsur muzik lainnya & orang-orang pun masih
banyak yang menikmatinya.

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: